Oleh: Oktaviola Putri (H44100013)

Laskar 28

Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Mobil mewah yang anda kendarai setiap hari? Sayangnya dalam beberapa menit benda mewah dan mengilap itu bisa hilang dari tempat parkir anda. Ya, mungkin saja ada yang membobol kuncinya dan membawa kabur mobil anda. Masihkah anda bisa bangga dengan mobil mewah itu?

Harta yang melimpah ruah? Coba ingat-ingat kembali. Benarkah harta itu milik anda? Apakah anda merasa sangat pantas untuk memiliki harta itu karena anda mati-matian bekerja siang malam untuk mendapatkanya? Sampai-sampai tak ada satu ibadah pun yang anda kerjakan. Dipikiran anda hanya uang…uang…dan uang…. Tahukah anda di dalam harta anda itu, terdapat hak orang-orang miskin? Adakah anda ingat untuk memberikan kelebihan harta anda kepada orang yang memerlukan? Jangankan memberikan, menyisihkanpun tidak. Nauzubillah….

Pangkat dan kedudukan yang berjubel? He..he… itu bukan hal yang harus dibanggakan, tapi seharusnya sesuatu yang harus ditanggisi, karena itu amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat. Bukan suatu prestasi yang bisa dipamerkan. Maka masih banggakah anda karena anak seorang pejabat atau presiden??? Yang menjabat sebagai presiden aja nggak seharusnya bangga, karena sebenarnya seorang presiden adalah pekerja keras yang menanggung beban hidup seluruh rakyat Indonesia, nggak hanya 2-3  orang anak seperti orang tua kita. Sekarang pikirkanlah, apakah kita pantas untuk sombang, padahal kita hanya anak seorang pejabat, bukan pejabatnya. He..he…lucukan bangga dengan prestasi seseorang yang tidak harus dibanggakan…..

Wajah yang cantik dan ganteng bak super star? Ho…ho…ho… Tau pepatah yang berbunyi seperti ini nggak “don’t judge a book from the cover”, maksudnya jangan lihat sesuatu dari luarnya aja buk…. Soalnya nggak menjamin. Udah banyak kejadian loh, banyak pencopet yang tampang dan penampilannya kayak mahasiswa. Duh…duh…duh… kalau nggak hati-hati kita bisa ketipu. Begitu dengan wajah yang cantik and ganteng, belum menjamin hati and behaviour nya juga “cantik”. Satu lagi, wajah cantik anda itu, dengan beberapa detik bisa berubah menjadi wajah yang amburadul. Kenapa? Ingat lagi dong siapa yang ngasih anda wajah? Siapa yang ngasih wajah mulus dan kinclong ama anda? Mudah bagiNya untuk ngasih wajah yang putih dan berseri pada anda, semudah Ia membuat muka anda penuh jerawat besar-besar yang bisa digunakan untuk menakuti burung-burung nakal di sawah. Bahkan ketika anda tanpa sadar lewat di depan cermin dan melihat bayangan yang dipantulkan oleh cermin itu, anda bisa kaget setengah mampus dan lari terbirit-birit sambil teriak “HANTU….HANTU….” Percaya nggak?

Prestasi akademik dan organisasi anda? Tak ada satu orang pun yang bisa menjamin kelangsungan prestasinya mulus-mulus saja. Kenapa? Karena ilmu itu bukan milik kita. Sehingga kita nggak bisa apa-apa. Ok, mungkin anda selalu dapat A+ disetiap ujian semester. Tapi untuk semester besok, apakah anda bisa menjamin anda bisa dapat A+? Jawabannya nggak sobat. Karena ada Zat yang Maha Memiliki Ilmu, dialah Allah SWT. Jangankan untuk semester depan, untuk ulangan besok pagipun, nggak ada orang yang bisa pastiin gimana nilainya. Pesan saya, sempurnakan ikhtiar dan bertawakallah. Karena segala sesuatu bisa berubah dengan seizin Allah, tau kah kamu berapa waktu yang di butuhkan oleh Allah? Lebih cepat dari kedipan mata. Subhanallah….

So, apa yang harus kita sombongkan? Tepatnya, pantaskah kita sombong? Kita hanya manusia, seorang hamba yang diciptakan oleh Sang pencipta. Ya, kita diciptakan, bukan ada begitu saja di muka bumi ini. Sehingga kita harus patuh dengan aturan yang dibuat oleh Sang pencipta kita. Sekarang coba sebutkan, apa kepunyaan anda yang bisa dibanggakan? Ops… salah, seharusnya ditanya dulu, apakah ada sesuatu di dunia ini yang anda miliki atau barang kepunyaan anda? Oke, coba pikirkan dan renungkanlah, pantaskah kita bangga dan sombong dengan barang yang hanya dititipkan kepada kita???

Oleh: Oktaviola Putri (H44100013)

Laskar 28

Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Dalam kehidupan kita sehari-hari selalu saja dewasa diidentikan dengan penambahan usia. Padahal tidak selalu seperti itu, bahkan banyak orang yang selalu bertambah usianya tapi tidak pernah dewasa. Masalah penambahan usia atau tua itu adalah masalah usia biologis dan itu pasti akan terjadi. Sedangkan masalah kedewasaan adalah masalah pematangan kepribadian dan pola pikir kita. Karena itu tidak semua orang dewasa itu berusia tua dan tidak semua orang yang berusia muda itu belum dewasa.

Memang agak abstrak rasanya kalau kita berbicara tentang kedewasaan. Indikator penilaiannya pun menjadi cukup rumit. Berbeda dengan usia biologis yang memiliki parameter yang sudah baku dan diakui di seluruh dunia (biasanya dalam hitungan tahun). Dalam ilmu kedokteran dikenal 2 cara pembelajaran, yaitu pembelajaran anak-anak dan pembelajaran orang dewasa. Pembelajaran orang dewasa adalah pembelajaran yang lebih aktif dan long life learning (belajar sepanjang hidup). Orang dewasa tidak akan puas dengan ilmu yang didapatnya, sehingga ia akan mencari sumber-sumber lain atau second opinion untuk menunjang teori yang baru di dapatnya. Kelihatannya mudah untuk melakukannya, tapi sangat sulit sekali untuk di terapkan di kehidupan nyata, apalagi dikalangan mahasiswa Indonesia sekarang.

Slogan long life learning sebenarnya sudah beberapa tahun yang lalu digembar gemborkan, tapi kenyataannya hanya segelintir mahasiswa yang “mulai” ngeh dengan slogan tersebut dan tidak lagi menganggapnya hanya sekedar slogan. Kelihatannya para pemuda Indonesia masih seperti paku dan palu, siap bertindak kalau diperintah atau disuruh dan kurang inisiatif. Lebih suka diberi ikan dari pada diberi pancingan. Ya, memang susah untuk merubah kebiasaan, apalagi merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik, tapi herannya mudah sekali untuk merubah kebiasaan baik menjadi kebiasaan buruk.

Misalnya masalah sholat malam atau tilawah, mudah sekali untuk meng-“absen”-kan 1 malam tahajud kita, kemudian berlanjut ke malam berikutnya dan berikutnya sehingga akhirnya sholat tahajud itu akan terabaikan sama sekali. Emang awalnya kita anggap sepele karena hanya meng-“absen”-kan 1 malam, ya hanya 1 malam. Tapi besoknya, 1 malam lagi dan 1 malam lagi. Mungkin awalnya, kita juga memiliki alasan atau tepatnya pembenaran untuk hal itu, kecapean atau mau ujian sehingga belajar sampai larut malam dan ketiduran. Kadang, hal-hal sepele yang kita sepelekan itulah yang sebenarnya akan menjadi hal besar yang membuat kita terjerumus jauh dari Allah.

Tapi, ketika kita ingin meng-“up grade” tilawah kita jadi 1 ½ juz perhari, ada saja alasan-alasan dan pembenaran-pembenaran yang terlontar dari dalam hati kita hingga sulit sekali untuk melakukannya dan akhirnya memang tidak kita lakukan, kalau lah memang kita lakukan, hal itu menjadi tidak maksimal.

Jadi janganlah takut menjadi tua, karena menjadi tua itu adalah suatu kepastian. Tapi isilah setiap hari-hari kita, disetiap hela napas kita dengan hal yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Apapun yang kita lakukan, kita tidak bisa untuk menunda waktu dan menunda penuaan kita. Maka dewasalah. Dewasalah dalam segala hal. Dewasalah dalam menyingkapi hidup, karena tidak semua orang akan menjadi dewasa tapi semua orang akan menjadi tua. Insyallah kelak kita akan menjadi tua dan kita adalah calon-calon orang tua yang berkualitas. Amin ya Rabb………